Posted by: marselazy | December 28, 2009

Seluler Dan Industri Pariwisata

Siang itu, Gusti Kompyang Aya panik. Seorang wisatawan asing yang dipandunya terjatuh saat mandi di Pantai Candidasa, Kabupaten Karangasem, Bali.

Si turis harus segera dibawa ke rumah sakit karena mengalami luka dan pendarahan. Tak ada alat komunikasi untuk menghubungi petugas kesehatan. Satu-satunya langkah cepat adalah mendatangi kantor polisi sektor (polsek) sekaligus ke kantor komando rayon militer (koramil) setempat.

Pramuwisata muda itu meminta bantuan polisi sekaligus anggota TNI AD untuk memberitahu ke rumah sakit di Kota Amlapura, Kabupaten Karangasem bahwa seseorang membutuhkan pertolongan segera. Jarak Candidasa ke Amlapura sekitar 20 kilometer.

Lewat komunikasi radio, anggota polsek dan koramil berusaha menghubungi kantornya di kota. Dari kantor polres dan kodim, baru disampaikan ke rumah sakit. Ambulans segera dikirim. Membutuhkan waktu tiga hingga lima jam untuk menangani seorang wisatawan yang mengalami kecelakaan seperti itu.

“Saya mengalami kejadian itu dulu, sebelum ada telepon seluler seperti sekarang ini. Kalau sekarang kan sudah enak, karena sewaktu-waktu bisa menghubungi siapa saja jika ada keperluan atau ada peristiwa yang membutuhkan pertolongan mendadak,” kata Kompyang Aya, praktisi pramuwisata di Bali.

Ratna N Soebrata, praktisi pariwisata yang dulunya menangani agen travel memiliki cerita lain mengenai ini.

“Dulu, sebelum ada telepon seluler, kami biasa membawa uang koin dalam jumlah banyak kalau melayani tamu, tapi sekarang cukup dengan HP kecil,” kata perempuan yang berpengalaman sebagai general manajer di industri pariwisata itu.

Saat mengelola agen travel sekitar tahun 1980-an, Ratna dan praktisi pariwisata lain banyak mengandalkan telepon koin yang disediakan di sejumlah hotel. Saat mengantar tamu ke suatu lokasi, ia menghubungi stafnya di kantor lewat telepon koin.

“Makanya saat itu saya harus selalu menyiapkan uang koin yang banyak. Sampai-sampai saya punya dompet koin yang isinya uang recehan,” kata Ketua Asosiasi Travel Asia Pasifik (PATA) kawasan Bali dan Nusa Tenggara itu sambil tertawa.

Setiap ke pasar atau belanja di toko, Ratna rajin mengumpulkan uang recehan tersebut. Koin-koin itu dikumpulkannya untuk keperluan melayani wisatawan.

Dia mengaku, pertama kali menggunakan telepon seluler tahun 1992, namun ukurannya masih sangat besar. Karena besar, maka seringkali penggunanya masih canggung menggunakan telepon tanpa kabel itu di tempat umum.

“Bentuknya kotak panjang, separuh dari batu bata. Namun seiring perkembangan teknologi seluler yang semakin canggih, kini sudah semakin kecil. Apalagi semakin banyak operator, pengguna semakin diuntungkan, termasuk kami yang di pariwisata,” katanya.

Ia mengemukakan, awal-awal menggunakan HP, dia harus menyediakan baterei cadangan karena saat itu, bateri telepon seluler hanya tahan sekitar dua jam.

Sumber : peta daerah


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: