Posted by: marselazy | December 28, 2009

Potret Masalah Kependudukan Di “Paris Van Java”

Alunan musik dangdut yang mendayu-dayu yang mengiringi suara tiga wanita muda berpakaian minim yang menampakkan lekuk kewanitaan, suatu sore akhir 2009, membaur dalam kesibukan warga Kampung Gambongkaran, Kelurahan Taman Sari, Kecamatan Bandung Wetan, Kota Bandung, Jawa Barat.

Sore itu, di salah satu sudut kampung padat di Bandung, anak-anak muda, pria dan wanita, termasuk beberapa ibu muda membawa serta anaknya dalam gendongan maupun tuntunan tangan mereka, ikut menonton pertunjukan dangdut pada pesta salah satu warga kampung itu.

Seorang bapak, terlihat lebih tua dari warga lainnya, dengan leluasa menyaksikan pula para artis dangdut lokal itu bergoyang seronok, dari tempat duduknya di bawah kios dagangan yang sedang tidak digunakan pemiliknya.

Bau menyengat dari tumpukan sampah di sekitarnya, di dekat belasan berbagai jenis mobil yang sedang parkir ada panggung kecil penyanyi dangdut itu yang persis berada di bawah jembatan layang, sepertinya tidak mengusik warga yang menonton panggung hiburan gratis tersebut.

Rumah-rumah warga di kampung itu, nampak berhimpitan satu sama lain, membuat nyaris tak ada jalan lebar bisa leluasa dilewati.

Sepeda motor yang masih bisa lewat, harus berjalan pelan-pelan, dan pengguna jalan lain harus meminggirkan badannya kalau tidak ingin disenggol atau bertubrukan.

Suasana di sebuah sudut kota berjuluk “Paris Van Java” itu merupakan masalah khas kependudukan yang kompleks, seperti halnya persoalan serupa pada banyak kota besar lain di Indonesia.

Kawasan itu menjadi potret yang diketengahkan Perkumpulan Keluarga Besar Indonesia kepada peserta program beasiswa singkat orientasi wartawan tentang keluarga berencana, kesehatan reproduksi, dan kependudukan. Kegiatan itu di 20 wartawan dari berbagai daerah.

Menurut Sekretaris RW 15 Kelurahan Taman Sari Muy Sunardi (63), terdapat sekitar 2.000-an jiwa atau 689 KK warga di lingkungan yang rumahnya cukup padat dan fasilitas tempat tinggal umumnya seadanya.

“Tapi kepadatan di sini mungkin belum separah beberapa kampung lain di Bandung ini, sehingga hampir tidak ada lagi ruang terbuka antara rumah satu dan rumah lainnya,” kata Muy yang sebelumnya pegawai PT Kereta Api Indonesia.

Dia menyebutkan, selain padat, sedikitnya 40 persen warga setempat tergolong miskin, sehingga perlu mendapatkan hak layanan kesehatan bagi keluarga miskin untuk membantu mereka.

“Masih banyak warga kami yang terus mengurus surat keterangan miskin di sini,” kata dia lagi.

Kondisi perkampungan ini, menurut beberapa warga setempat, kendati padat, cenderung menjadi kumuh dan sumpek, namun telah menjadi bagian sehari-hari kehidupan mereka yang mesti terus dijalani.

Darmawati (24), salah satu gadis kampung padat di Bandung itu, tinggal bersama ibunya dan satu kakak perempuannya yang telah bercerai dengan suaminya, di rumah kontrakan yang sempit dan seadanya.

Hamparan tikar lusuh menjadi tempat duduk, saat menerima tamu di rumah kontrakan seharga Rp700.000 per bulan itu.

Ayah Darmawati sudah meninggal terkena stroke, sehingga dia membantu ibunya dengan bekerja di kawasan pusat belanja Cihampelas Bandung.

“Untuk air minum sehari-hari, harus mengambil dari masjid yang agak jauh dari rumah ini, karena di kontrakan ini tidak ada air PDAM. Susah juga memang,” ujar dia, dengan raut muka sendu dan berucap agak pelan.

Selain kondisi gang-gang yang sempit, saat memasuki perkampungan itu, di kiri kanan gang itu, terlihat aktivitas keseharian warga, seperti memasak, mencuci, dan kegiatan lain mereka.

Anak-anak kecil pun berseliweran di gang-gang sempit itu, terlihat lebih banyak, dibandingkan para remaja wanitanya.

Tapi menurut Muy Sunardi, sejak dia tinggal di kampung itu tahun 1968/1969 sangat jarang terjadi kebakaran atau keributan antarwarga.

“Tak terbayangkan kalau sampai terjadi kebakaran, bisa habis semuanya karena rumah-rumah yang sangat padat ini,” kata Muy lagi.

Namun di kampung itu, setiap kali hujan deras berjam-jam, sejumlah rumah yang lokasinya lebih rendah atau bersaluran pembuangan air kecil dan mampat, hampir pasti akan kebanjiran.

“Yah, beginilah kondisi kami masyarakat di sini yang bagaimana pun keadaannya tetap harus menjalani kehidupan seterusnya,” ujar dia, seraya berusaha tetap mencoba tersenyum, pastinya bukan senyuman kebahagiaan.

Menurut Direktur Eksekutif Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Pusat Inne Silviane, persoalan kependudukan yang dialami masyarakat Indonesia –termasuk di kota besar seperti DKI Jakarta dan Bandung itu– dapat menjadi pemandangan sehari-hari saat ini.

“Apalagi setelah program KB cenderung diabaikan pada era otonomi daerah, dan KB tidak lagi diperhatikan di daerah-daerah,” ujar Inne.

Dia menyebutkan, sebelumnya Indonesia dinilai sukses melaksanakan Program KB, sehingga dapat menekan pertambahan penduduk sebanyak sekitar 80 juta, namun saat ini ancaman ledakan kelahiran baru (“baby booming”) dan kepadatan penduduk sangat menghantui lagi.

Tahun 2008, jumlah penduduk Indonesia mencapai 237 juta lebih, dengan tingkat kelahiran 2,6. Namun penggunaan alat kontrasepsi untuk mencegah dan mengatur kehamilan hanya 61,4 persen.

“Masih ada sekitar 9,1 persen yang tidak ber-KB, tapi tidak mau punya anak dan ingin menunda kehamilan,” kata Inne pula.

Padahal menurut ahli demografi Universitas Indonesia (UI) Lilis Heri Mis Cicih MSi, jumlah penduduk Indonesia masa depan akan terus semakin meningkat. Apalagi jika Program KB tidak lagi menjadi perhatian dan prioritas dalam program pemerintah pusat dan daerah-daerah.

Sumber : daerah indonesia


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: