Posted by: marselazy | December 1, 2009

Ketika Pemkot “Memaksa” Pedagang Pindah di Kendari

“Jangan dipagari pak, jangan.. jangan kasian….kami juga tahu aturan, teriak ratusan pedagang saat menghalau puluhan petugas satuan polisi pamong praja Kota Kendari, Sultra, yang membawa lima gulungan kawat berduri dengan tujuan akan memagari halaman pasar sentral kota.

Aksi adu mulut dan bahkan adu jotos antara pedagang pasar sentral Kota dengan aparat berseragam itu pun tak terelakkan. Hasilnya, pemasangan pagar berduri yang rencananya dilakukan hari Kamis (7/10) itu pun batal dilakukan oleh aparat.

Rencana pemagaran pasar sentral kota yang luasnya diperkirakan 20.000 meter bujur sangkar itu sehubungan dengan niat baik pemerintah Kota Kendari untuk membangun kembali pasar baru yang bergaya modern arsitektur tersebut.

Namun, proses relokasi (pemindahan) pedagang pasar tampaknya masih mengalami kendala karena beberapa orang itu yang mengklaim diri sebagai pemilik lahan Pasar Higienis, tempat di mana mereka itu akan dipindahkan sementara.

“Kami tidak bisa dipaksa untuk pindah ke kawasan baru. Kami tahu aturan dan paham akan hak dan kewajiban sebagai pedagang,” kata Febry (35), salah satu dari ratusan pedangan yang ngotot bertahan dan bahkan akan melakukan perlawanan bila aparat itu memaksa untuk memasang pagar berduri tersebut.

Ia mengatakan, pada prinsipnya para pedagang mendukung langka pemerintah kota untuk membangun kembali pasar sentral tersebut, dengan harapan, kawasan baru yang akan ditempati itu status lahannya harus diselesaikan dengan warga yang mengaku sebagai pemiliknya.

“Terus terang, akhir-akhir kami sering mendapat ancaman teror dari orang yang mengaku sebagai pemilik lahan di atas bangunan Pasar Higienis tersebut,” katanya.

Dirinya dan rekan-rekan pedagang akan tetap bertahan di pasar sentral kota dan tidak akan pernah pindah ke Pasar Higeinis yang dibangun pemkot sebelum ada kejelasan status tanah tersebut.

Agus (40), yang sehari-hari sebagai tukang jahit pakaian di pasar sentral itu, mengatakan, semestinya Pemkot Kendari tidak memaksakan kehendak sebelum permasalahn tanah yang telah disepakati tim yang tergabung pengurus Kerukunan Pedagang Pasar Sentral (KPPS), diatasi.

Pengurus KPPS, katanya, selama ini sebagai tim mediasi dianggap gagal memperjuangkan nasib mereka, karena aspirasi yang sudah beberapa kali disuarakan ke pihak legislatif tak membuahkan hasil maksimal.

“Kami semua siap pindah ke pasar sementara asal jaminan keamanan itu ada. Jangan sampai dengan adanya berbagai ancaman atas kasus sengketa tanah di sana, tiba-tiba ada yang membakar pasar sementara. Kan bisa repot nantinya,” ujar Halim, pedagang bumbu dapur di pasar sentral kota.

Ia mengatakan posisi para pedagang selama ini seakan-akan menjadi bumerang. Pindah salah, tidak pindah juga akan lebih salah. Oleh karena itu ia berharap kepada Pemkot sebelum mereka pindah agar jaminan keamanan harus benar-benar terjamin.

Begitu pula, Ny Hasma, pedagang pecah belah mengatakan, dia menerima pemindahan pedagang itu, dengan harapan relokasi pasar berjalan dengan baik.

“Tidak ada masalah untuk pindah dengan ketentuan semua pedagang sepakat untuk pindah. Sebab, saya tinggal pun di sini kalau semua pedagang lain pindah, otomatis tidak ada juga pembeli yang datang,” ujarnya.

Pihaknya sangat menyayangkan sikap pemerintah kota yang ngotot ingin memindahkan para pedagang pasar sentral kota ke Pasar Higienis. Kekesalan ini dipicu karena lahan tersebut masih dalam sengketa antara Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara dan Ismail, yang mengklaim diri sebagai pemilik lahan.

Hanya sementara

Wali Kota Kendari, Asrun mengatakan, tujuan pemerintah memindahkan para pedagang di pasar tersebut merupakan hanya sementara sambil menunggu selesainya pembangaunan pasar sentral yang bergaya modern.

“Pertimbangan pemerintah memindahkan sementara para pedagang itu karena pasar sentral itu sejak dibangun tahun 1970-an belum pernah direnovasi,” katanya.

Ia mengatakan, dengan usia bangunan yang sudah mencapai 37 tahun lebih harus segera dibangun kembali dengan harapan pasar sentral yang sudah kumuh itu bisa bergaya modern.

Pembangunan pasar sentral itu diperkirakan akan menelan dana sebesar Rp90 miliar, dengan jangka waktu pembangunan dua tahun.

“Pemkot mulai tahun ini sudah mengalokasikan melalui APBD sebesar Rp40 miliar dan diharapkan 50 persen lainnya dari pihak ketiga, dalam hal ini investor dan masyarakat,” katanya.

Terkait dengan keengganan sebagian pedagang pindah ke pasar sementara, Wali Kota mengatakan, seharusnya mereka pindah, sebab cepat atau lambat pemerintah kota segera mengambil sikap tegas untuk membangun pasar sentral kota yang baru.

Oleh karena itu, dia mengatakan, relokasi pedagang harus dilaksaanakan karena tenggang waktu yang diberikan bagi mereka untuk pindah ke lokasi baru itu sudah beberapa bulan lalu.

“Kalau ada pedagang yang masih berkeras untuk tidak mau pindah ke kawasan pasar higeinis bararti mereka tidak menaati aturan yang disepekati antara pemerintah, legislatif dan KPPS,” katanya.

Ketua Komisi B DPRD Kota Kendari, Chullafau Rasyidin mengatakan, pihaknya memahami keinginan pemerintah kota untuk secepatanya merelokasi para pedagang di pasar sentral kota yang jumlahnya hampir 2.000-an orang tersebut.

Ia mengatakan, proses pemindahan para pedagang tersebut tak bisa dipaksakan, karena masih ada di antara pedagang yang belum bersepakat untuk itu.

Di samping, masih ada salah seorang warga yang mengaku sebagai pemilik lahan Pasar Higienis, yang kasusnya hingga kini masih diproses pada tingkat kasasi di Mahkamah Agung.

Baca Selanjutnya


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: